Oleh: Muhaimin Iqbal
Hampir dua puluh tahun lalu negeri ini punya proyek besar untuk memberi makan bagi penduduknya yang terus bertambah banyak. Proyek itu bernama Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. Alih-alih memberi solusi pangan bagi rakyat negeri ini, kini di sekitar proyek tersebut rakyat yang dahulunya makmur sekarang malah menjadi miskin karena rusaknya lingkungan setempat.
Berikut adalah penuturan seorang ibu yang mengenang kemakmurannya yang dahulu : “Dulu
kami banyak dapat uang dari kayu, rotan dan ikan. Lahan padi masih
subur. Perusahaan kayu memberikan lapangan pekerjaan yang mencukupi bagi
kami. Di sini menjadi salah satu sentra produksi tanaman rotan. Sungai
Dadahup menjadi lalu lintas angkutan kayu dulunya.” (Kompas 09/07/2012)
Dahulu
di daerah tersebut banyak tumbuh pohon rotan, namun kini sudah tidak
ada lagi karena rotannya habis terbakar. Air Sungai menjadi keruh dan
masam, tidak ada lagi ikan. Setelah kebakaran besar 1997, petani
padi-pun pada trauma sehingga tidak lagi menanam padi. Yang tinggal kini
hanyalah semak belukar yang tiada memberi hasil. Penduduk asli yang
dahulu makmur kini bekerja sebagai buruh di kebun-kebun sawit yang marak
berkembang di daerah ini.
Inilah
dampak pembangunan yang mengandalkan pemikiran manusia yang serba
terbatas dan penuh dengan kepentingan. Kadang akalnya tahu hal yang
baik, tetapi nafsunya mengalahkan akal sehingga kepentingan demi
kepentingan mewarnai setiap proyek-proyek pembangunan di negeri yang
seharusnya subur makmur ini.
Hal
senada dengan inilah yang baru kemudian disadari oleh pemimpin-pemimpin
dunia yang bertemu dalam pertemuan tingkat tinggi yang disebut Rio+20
di Brasil hampir setahun yang lalu (Juni , 2012). Tema pertemuan tingkat
tinggi tersebut sebenarnya sangat indah : “Green economy in the context of sustainable development and poverty eradication – Ekonomi hijau dalam konteks pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengikisan kemiskinan”.
Pada
pertemuan tingkat tinggi tersebut negeri ini diwakili oleh orang-orang
super sibuk yang terdiri dari presiden dan sejumlah menterinya. Mungkin
karena yang hadir adalah orang-orang yang sangat sibuk inilah, hingga
kini – setahun setelah konferensi - kita belum mendengar action plan-nya apa untuk proyek yang indah ini. Mirip juga dengan ASEAN Economics Community (AEC), yang rakyat seperti kita nyaris tidak mengetahui action plan
apa yang tengah disiapkan negeri ini untuk menghadapi realita yang
tinggal dua tahun lagi – lagi-lagi, mungkin karena kesibukan para
pemimpin negeri ini untuk hal-hal lain yang dianggapnya lebih penting.
Karena
kita bukan menteri dan bukan pejabat pemerintah, tentu saja kita tidak
diajak pak presiden untuk ikut ke Rio de Janeiro setahun lalu. Namun
karena program pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pengikisan
kemiskinan itu adalah untuk kita semua dan juga untuk anak cucu kita
nanti, maka tidak ada salahnya (bahkan sudah seharusnya) orang-orang
yang berakal di negeri ini ikut memikirkannya siang malam, sambil
berdiri, sambil duduk dan sampai kemimpi-mimpi-pun terus memikirkannya.
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”” (QS 3:190-191)
Lantas
apa hubungan ayat ini dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan
pengikisan kemiskinan tersebut di atas ? Karena ayat tersebut tentang
orang berakal yang terus berfikir, berfikir antara lain untuk tugasnya
dimuka bumi ini yaitu menjadi pemakmur bumi (QS 11:61). Maka meskipun
kita bukan presiden dan bukan pula menteri, tetapi ini bukan berarti
kita tidak memiliki tugas berat untuk memakmurkan bumi ini.
Tugas
yang berat akan menjadi ringan dan yang sulitpun akan menjadi mudah –
manakala tugas itu dilaksanakan sesuai dengan yang memberi tugas. Yang
memberi tugas kita bukan presiden dan bukan menteri, yang memberi tugas
kita adalah Yang Maha Adil, Maha Tahu, Maha Kuasa…pastilah Dia membekali
kita dengan resources yang cukup untuk melaksanakan tugas tersebut.
Di antara resources
tersebut adalah ayat-ayatNya yang meliputi petunjuk dan
penjelasan-penjelasannya (QS 2 :185) dan jawaban atas segala masyalah
(QS 16:89). Maka ketika petunjuk tersebut kita gunakan untuk
melaksanakan tugas memakmurkan bumi, membangun pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan dan mengikis kemiskinan – insyaAllah bumi ini akan
bener-bener makmur dan keberkahan melimpah dari langit dan dari bumi (QS
7:96).
Saya
menemukan setidaknya lima surat yang didalamnya mengandung petunjuk
detil tentang bagaimana memakmurkan bumi itu. Begitu detil
tahap-tahapnya mulai dari bumi yang mati,
sampi jenis-jenis tanaman yang disandingkan, yang diunggulkan, yang
disebut namanya secara spesifik, yang disebut namanya secara generik,
yang untuk sumber energi, sumber vitamin, sumber protein, sumber obat,
yang untuk manusia dan bahkan yang untuk hewan dst. Ini semua saya
rangkum dalam ilustrasi dibawah untuk memudahkan pemahamannya.
Diantara
tanaman-tanaman yang disebut secara spesifik tersebut tidak ada yang
tidak tumbuh di negeri ini, semuanya bisa tumbuh. Apalagi
tanaman-tanaman yang disebut secara generik seperti biji-bijian,
buah-buahan, rumput-rumputan dst. tidak terhitung jumlahnya yang ada di
negeri ini.
Yang
lebih menarik lagi adalah secara umum proses pemakmuran bumi itu
dimulai dari bumi yang mati – artinya tanah-tanah yang selama ini
ditelantarkan, bukan mulai dari membabat hutan yang sudah subur ! maka
disinilah perbedaan mendasar proyek membangun kemakmuran berdasarkan
petunjutk itu dengan Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar yang saya kutib
di awal tulisan tersebut di atas.
Dalam waktu dekat kami akan membuat workshop
khusus dengan ahli-ahli Al-Qur’an dan ahli-ahli pertanian, perkebunan,
pengairan, pembiayaan dlsb. Targetnya adalah agar petunjuk-petunjuk
tersebut dapat lebih tajam dipahami dan diimplementasikan di lapangan.
Bila Anda salah satu Ahli yang berkompeten dalam bidang-bidang ini,
silahkan bergabung dengan mengirimkan CV Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar