Gold Rush…

Oleh: Muhaimin Iqbal
Ahad, 12 Februari 2012


Istilah ‘gold rush’  atau perburuan emas awalnya digunakan untuk mengungkapkan demam migrasi besar-besaran pekerja ke daerah-daerah dimana emas banyak ditemukan. Ini terjadi abad 19 di negara-negara Amerika, Kanada, Brazil, Afrika Selatan, Australia dan juga negara-negara lain dengan skala yang berbeda. Demam menyerupai ‘gold rush’ ini kemudian dari waktu ke waktu terjadi kembali, tidak hanya terkait dengan emas saja – tetapi bisa juga untuk bidang-bidang lain yang menimbulkan efek menular dengan cepat.

Petani Tua Dan Pohon Durian-nya…

Oleh: Muhaimin Iqbal
Rabu, 8 Februari 2012

Seorang petani tua dengan susah payah mencangkuli tanah di halaman rumahnya untuk membuat lubang.  Orang-orang yang lewat, sebagian besar hanya untuk basa-basi, tetapi ada yang memang  serius bertanya : “lagi membuat apa pak ?”. Si petani menjawab : “Ini, lagi pingin menanam durian !”. Si penanya menjadi penasaran, bertanya lagi : “Durian kan perlu waktu lama untuk berbuah ?” , petani tua tersebut maklum dengan pertanyaan ini - dalam benaknya dia menebak si penanya pasti mengira bahwa dia menanam durian ini untuk dirinya sendiri - dengan usia yang dimiliki si petani,  dia sadar bawa kecil kemungkinannya dia bisa menikmati buah durian yang dia tanam tersebut.

BeyBus Challenge : Who Want To Be The Boss…?

Oleh: Muhaimin Iqbal
Selasa, 31 Januari 2012

Sekian tahun mengadakan pelatihan kewirausahaan, harus saya akui tidak mudah untuk men-transformasi-kan orang-orang yang biasa bekerja di comfort zone-nya di perusahaan-perusahaan besar atau instansi untuk kemudian terjun ke lapangan memulai segalanya dari nol. Dari diskusi saya dengan mereka-mereka ini, saya simpulkan ada dua yang mengemuka jadi hurdle (rintangan) utama yaitu ketakutan menghadapi risiko dan kendala modal. Sekarang saya akan mencoba pendekatan lain, bagaimana kalau risiko itu di share dan modal saya yang akan mencarikannya – apakah Anda masih takut untuk terjun ?.

Inflasi Terhadap Dinar…?

Oleh: Muhaimin Iqbal
Jum'at, 27 Januari 2012


Harian umum Republika kemarin (Kamis 26/01/2012) memuat tulisan dua pakar ekonomi tentang Promosi Dinar-Dirham. Intinya mengomentari bahwa promosi Dinar-Dirham selama ini dikatakannya sebagai  ‘sangat kontra produktif’,  ‘lebay’ dan ‘kurang mendidik’.  Masalah yang diangkat adalah katanya ada yang mempromosikan Dinar sebagai uang yang ‘tidak mengenal inflasi’ – entah siapa yang dimaksud. Maka melalui tulisan ini saya ingin meluruskan saja, agar penggerak Dinar-Dirham dan para pembaca situs ini  – termasuk dua penulis tersebut - bisa tetap melihatnya dengan jernih, dengan kacamata ingin belajar mencari kebenaran. 

Impact Investing : Peluang Baru Investasi Syariah…

Oleh: Muhaimin Iqbal
Senin, 23 Januari 2012

Setelah kurang lebih empat tahun dunia investasi global diguncang krisis demi krisis, ternyata tidak semuanya berdampak buruk khususnya bagi dunia jangka panjang. Ketika orang mulai menyadari bahwa ternyata tidak ada cara yang mudah untuk bisa memperoleh hasil yang tinggi dengan risiko yang rendah, tidak ada passive income yang bener-bener passive atau bener-bener income (bukan malah expenses), kini mulai ada gelombang investasi baru yang disebut Impact investing.

Harga Emas : Dari Mana dan Akan Kemana…?

Oleh: Muhaimin Iqbal
13 Januari 2012

Dalam dunia usaha, posisi sesaat tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan trend-nya. Misalnya Anda punya warung sembako yang tahun 2011 lalu omset-nya Rp 50 juta, Angka ini tidak bisa untuk menjelaskan kinerja Anda apakah baik atau buruk. Angka ini baru berarti sesuatu bila misalnya dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya. Bila tahun 2010 omset Anda Rp 25 juta, berarti kinerja Anda tahun 2011 meningkat luar biasa 100 %. Sebaliknya bila tahun 2010 omset Anda sudah Rp 100 juta, maka usaha Anda sedang mengalami sunset atau sedang tenggelam di tahun 2011. Maka demikian pulalah dalam melihat perkembangan harga emas.

Hidup Adalah ‘Roller Coaster’ Gratisan…

Oleh: Muhaimin Iqbal
Senin, 2 Januari 2012
Liburan akhir tahun ini saya ada urusan di Jogjakarta, jadi saya sempatkan bernostalgia menikmati kota ini karena tiga tahun lebih masa remaja saya sekolah di sini. Saya sempatkan jalan-jalan di alun-alun utara yang lagi ada sekatenan, luar biasa hiruk pikuknya. Ada beberapa ‘roller coaster’ mini yang nampaknya laris diantri pengunjung, tidak sehebat yang di Dufan-Jakarta tetapi cukup membuat teriakan-teriakan histeris penumpang ‘roller coaster’ mini ini membahana di alun-alun utara Jogja. Dalam hati saya bertanya, kok orang mau ya mengantri dan membayar untuk dibuat ‘stress’ sport jantung memacu adrenalin – padahal untuk stress yang gratis yang bisa datang setiap saat dalam ke-hidupan sehari-hari kita justru lebih sering tidak bisa menikmatinya ?